|
|
:: Rubrik : Jejak LANGKAH
|
| |
|
 Edisi No.05/I/September 2003 Menyisir Jejak Kusir Andong Malioboro
Mentari senja Yogyakarta mulai menyapa. Wajah Malioboro masih bersahaja. Di sekitar perempat jalan dekat benteng, terlihat manusia-manusia duduk santai bersenda gurau dengan sesama temannya. Hawa ceria menyelimuti raut muka mereka. Irama gerak para pejalan kaki, buruh-buruh gendong, seniman jalanan, dan orang-orang pasar bergelombang bagai ombak laut yang dinamis. Di sela-sela kesibukan pasar itulah duduk termenung seorang kusir andong di atas kereta kuda mereka.
| | Lebih lengkap... |  | |  Edisi No.04/I/Agustus 2003 Seniman Jalanan dari Gunung Kidul
Di tengah kebisingan lalu-lintas kawasan perbelanjaan Blok M Jakarta, dan lalu lalang manusia-manusia modern, para seniman jalanan tetap bebas menuangkan ekspresi yang dipesan pelanggannya dengan imbalan beberapa rupiah. Mereka berjejer di depan pertokoan sepanjang ruas Jalan Melawai. Para pekerja seni jalanan ini tampak begitu tenang dan seakan tidak peduli dengan kondisi sekeliling yang seringkali membuat kita pusing kepala.
| | Lebih lengkap... |  | |  Edisi No.03/I/Juli 2003 Saminem, Pahlawan Bagi Orang Gila
Dalam sejarah peradaban umat manusia, kegilaan dan orang-orang gila selalu mendapat perlakukan paling buruk dan posisi yang hina melebihi kejahatan manapun. Namun di setiap zaman, seperti yang dikatakan Michel Foucault dalam bukunya
| | Lebih lengkap... |  | |  Edisi No.02/I/Juni 2003 Puji Arini, Membangun Sisi Kemanusian Anak Jalanan
Sejak masih duduk di bangku sekolah, di mana remaja belasan tahun seusianya sedang sibuk menghabiskan waktu di mal, kafe, diskotik, asyik nonton konser musik grup-grup band favoritnya, bahkan mungkin tawuran, Puji Arini (28), perempuan yang semasa kecilnya bercita-cita ingin menjadi guru ini, justru sibuk di jalanan dan tempat-tempat kumuh demi membela hak dan kepentingan komunitas marjinal yang selama ini tergilas oleh janji-janji modernitas.
| | Lebih lengkap... |  | |  Edisi No.01/I/Mei 2003 Mikem, Si Penjual Sayur Keliling Potret Hitam Putih Hidup di Perantauan
"Hidup harus dijalani," ucap Mikem (35) penuh semangat. Ialah Mikem si penjual sayur keliling di kawasan Pondok Labu Jakarta Selatan, satu dari sekian banyak wanita perantau di Jakarta. Semangat Miken tak mau kalah dengan perantau lain, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. figurpublik mencoba mengenal wanita Jawa ini lebih jauh di sela-sela kesibukannya. Bagaimana lika-liku perjalanan Ibu beranak tiga ini sesungguhnya?
| | Lebih lengkap... |  | |
|
|