figurpublik.com
KRAKSAAN — 29 September 2026 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat peran strategis pendidik dalam upaya pencegahan stunting melalui sosialisasi edukasi kesehatan dan pemenuhan gizi bagi siswa jenjang TK dan SD. Kegiatan berlangsung di Auditorium Madakaripura, Kantor Bupati Probolinggo, pada Selasa (29/9/2026), dan diikuti oleh 254 peserta yang terdiri dari seluruh ASN guru TK serta perwakilan delapan guru SD dari setiap Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Disdikdaya se-Kabupaten Probolinggo.
Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, secara resmi membuka kegiatan sosialisasi tersebut. Materi disampaikan oleh narasumber dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang membahas kesehatan dan pemenuhan gizi siswa, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo yang menyoroti aspek pemenuhan gizi anak dan keamanan pangan.
Dalam sambutannya, Hary Tjahjono menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak dapat dibebankan semata-mata kepada sektor kesehatan. Satuan pendidikan, keluarga, dan berbagai pemangku kepentingan memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Upaya pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi membangun lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak," ujarnya.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari komitmen yang telah dibangun sebelumnya. Pada 17 September 2026, sosialisasi dengan tema serupa, "Guru adalah Mitra Keluarga dalam Pencegahan Stunting", telah dilaksanakan sebagai langkah awal penguatan kapasitas pendidik.
Hary menjelaskan bahwa posisi guru sangat strategis karena berinteraksi langsung dengan anak setiap hari. Guru dapat mengamati perubahan perilaku anak, membangun kebiasaan hidup sehat yang positif, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara sekolah dan keluarga.
Guru tidak menggantikan peran orang tua maupun tenaga kesehatan. Namun, guru berada di garis terdepan dalam mengamati pertumbuhan anak, membangun kebiasaan baik, dan menyampaikan informasi penting kepada keluarga. Inilah peran strategis yang ingin kita perkuat," jelasnya.
Keselarasan antara pembiasaan di sekolah dan di rumah juga menjadi penekanan utama. Kebiasaan hidup bersih dan sehat yang diajarkan di sekolah perlu didukung secara konsisten oleh keluarga di rumah agar dampaknya maksimal.
Terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Hary menegaskan bahwa program tersebut merupakan instrumen pendukung pemenuhan gizi, bukan pengganti peran keluarga maupun pendidikan gizi. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi seluruh pihak.
MBG bukan solusi tunggal. Sekolah berperan dalam pembiasaan dan edukasi, Dinkes menjaga aspek kesehatan dan keamanan pangan, BGN menjalankan mandat program pemenuhan gizi nasional, dan pemerintah daerah membangun koordinasi antar-pihak. Kelahargalah yang memegang peran utama dalam membangun pola makan anak di rumah," tegasnya.
Hary berharap sosialisasi ini tidak berhenti sekadar pada penambahan wawasan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pembiasaan sehari-hari di sekolah. Langkah sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan, mengenalkan makanan bergizi, sayur dan buah, minum air yang cukup, makan tertib, tidak menyia-nyiakan makanan, serta menjaga kebersihan lingkungan, adalah langkah nyata yang dapat dilakukan.
Kita sedang membangun fondasi bagi generasi Kabupaten Probolinggo yang lebih sehat, cerdas, berkarakter, produktif, dan berkualitas hidup lebih baik. Pencegahan stunting tidak selesai di sekolah, dan pemenuhan gizi tidak selesai saat makanan dibagikan. Semua harus menjadi kebiasaan yang berkelanjutan, di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat," pungkasnya.
Penulis : Pimred
Editor : Tim figurpublik info


0 Komentar